Diduga Sebar Hoaks Omnibus Law, Seorang Wanita Ditangkap Polisi

  • Bagikan
diduga sebar hoaks

Nasional — Bareskrim Polri meringkus seorang perempuan berinisial VE terkait kasus penyebaran berita bohong tentang Omnibus Law UU Cipta Kerja lewat media sosial Twitter. Dia diduga menyebarkan hoaks lewat akun @videlyaeyang.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan VE berhasil diringkus pada 8 Oktober lalu di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Adanya seorang perempuan diduga melakukan penyebaran yang tidak benar itu ada di Twitter-nya @videlyae,” kata Argo di Mabes Polri, Jumat (9/10).

Argo mengatakan VE lantas diterbangkan ke Jakarta usai ditangkap. Dia dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan di Bareskrim Polri.

Dari hasil pemeriksaan, VE memang telah menyebarkan berita bohong lewat akun Twitter dan berpotensi menyebabkan keonaran. Argo menerangkan hoaks yang disebarkan oleh VE adalah 12 pasal dalam di Omnibus Law UU Ciptaker.

Baca Juga :  Khutbah Jumat Pegawai dan Majikan Dalam Islam

“Ini 12 pasal itu yang disebarkan yang di mana pasal-pasal itu adalah contohnya uang pesangon dihilangkan, kemudian UMP-UMK dihapus gitu ya, kemudian semua cuti tidak ada kompensasi dan lain-lain. Itu sudah beredar sehingga masyarakat itu terprovokasi,” tuturnya.

Motif EV melakukan perbuatannya, kata Argo, karena sedang tidak bekerja dan kecewa dengan aturan tersebut. Dia lantas menyebarkan informasi keliru lewat media sosial.

Atas perbuatannya, EV dijerat Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun.

Baca Juga :  Perubahan Iklim Disebut Meningkatkan Risiko Diabetes

Sebelumnya, pemerintah lewat beberapa menteri menyebut banyak informasi keliru mengenai Omnibus Law UU Cipta Kerja yang beredar di media sosial. Informasi keliru tersebut dinilai membuat masyarakat menjadi salah paham.

Selain anggota kabinet, polisi juga turut meluruskan informasi-informasi keliru ihwal Omnibus Law UU Cipta Kerja. Salah satu media yang digunakan kepolisian adalah akun Twitter TMC Polda Metro Jaya.

“Itu diperjelas saja, untuk jangan sampai nanti masyarakat tergiring dengan berita-berita tidak benar sehingga timbul masyarakat itu melakukan hal-hal yang tak diinginkan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Rabu (7/10).


CNNIndonesia

  • Bagikan
Positive SSL