Curhat di Medsos Viral! Santri Meninggal Gegara Prosedur Penanganan COVID-19

Realshtmobi | Shorten your link and earn money

Mojokerto -Curhatan seorang netizen terkait meninggalnya seorang santri menjadi viral di media sosial. Santri berusia 13 tahun itu meninggal dunia gara-gara terlambat dirujuk dari rumah sakit swasta di Mojokerto.

Keterlambatan terjadi karena pihak rumah sakit memaksa keluarga menandatangani surat pernyataan jika santri tersebut mengidap COVID-19. Sementara pihak keluarga bersikukuh bahwa korban memang tidak kena COVID-19.

Lapak Somplaq | Pusatnya Fashion Terlengkap

Curhatan tersebut diunggah akun Arya Riza Elsafi di salah satu grup Facebook di Mojokerto. Selama dua hari terakhir, curhatan ini disukai 10.168 kali dan menuai 4.327 komentar dari warganet.

Dalam positingan tersebut, pemilik akun Arya Riza Elsafi mengeluhkan lambatnya pelayanan salah satu rumah sakit di Mojokerto terhadap keponakannya yang sedang tidak sadarkan diri. Karena kecewa dengan pelayanan rumah sakit tersebut, pihak keluarga meminta pasien dirujuk. Namun, pihak rumah sakit mempersulit rujukan dengan dalih prosedur penanganan COVID-19.

“Pihak keluarga saya minta pindah rs alias rujuk, diizinkan, tp harus ttd covid… ya jelas pihak kita tdk semudah itu menandatangani surat pernyataan tersebut, karna maaf… isi surat pernyataan tersebut terkesan memaksa dan harus mengakui bahwa ponakan saya positif covid, kita ttp tdk mau, alhasil adu mulut tdk terhindarkan lagi…pihak keluarga ttp dipaksa untuk menandatangani pernyataan tersebut, ttp kita ndak mau, dan mau menandatangani yg diluar pernyataan covid.. karena yg disodorkan ke kita ada 5 poin, 3 poin diantaranya tentang covid. Mau minta rujukan saja terkesan dipersulit, atau dilama2in. Akhirnya kita rujuk paksa dan mereka izinkan, tp innalillahi wa inna ilaihi roji’un… ponakan saya meninggal ditengah perjalanan,” tulis Arya Riza Elsafi seperti dikutip detikcom.

Baca Juga :  Ada-ada saja Kelakuan warga +62 , Tak Ada Masker, Sempak Pun Jadi. Lihat video

Curhatan tersebut ternyata dibuat dan diposting paman korban berinisial AR (28), warga Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Korban merupakan santri perempuan berinisial SS (13), warga Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. SS mondok di salah satu pesantren di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Viral Dukhan dan 15 Ramadhan 2020 Bertepatan Jumat, ini Kata Ustad

“Saya tidak terima dengan pelayanan rumah sakit tersebut. Kondisi keponakan saya sudah gawat masih diperumit dengan alasan COVID-19. Harapan saya biar masyarakat lebih teliti kalau diminta menandatangani surat pernyataan apapun, terlebih lagi terkait Corona,” kata AR menjawab alasannya membuat positingan yang viral tersebut, Jumat (2/10/2020).

AR menjelaskan keponakannya sakit karena terjatuh saat menjemur pakaian di pondok. Santri berusia 13 tahun itu pulang dari pondok pada Senin (28/9). Keesokan harinya, Selasa (29/9) siang, korban mengalami kejang-kejang. Sehingga dibawa orang tuanya ke sebuah rumah sakit di Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Saat di IGD rumah sakit swasta tersebut, lanjut AR, tenaga medis sempat memasang selang ke hidung keponakannya untuk mengalirkan oksigen. Namun, keluarga pasien meminta selang itu dilepas karena dianggap belum dibutuhkan. Korban mengalami pendarahan ringan dari hidungnya saat selang dilepas. Sehingga pasien kembali kejang-kejang.

Baca Juga :  Ngenes Banget, Driver Ojol ini Dapat Bintang Satu Karena Dendam Cinta Masa Lalu

“Lalu dikasih suntikan sehingga kembali tenang. Sekitar Magrib, keponakan saya kejang lagi. Keluarga menilai penanganan rumah sakit kurang maksimal, sehingga minta dirujuk ke rumah sakit lain,” terangnya.

Saat itulah, kata AR, pihak rumah sakit dinilai mempersulit rujukan untuk korban. Menurut dia, pihak rumah sakit meminta keluarga lebih dulu menandatangani surat pernyataan yang terkesan harus mengakui pasien positif COVID-19. Sementara pihak keluarga bersikukuh korban tidak terpapar virus Corona.

“Proses rujukan jadi lama karena keluarga menolak menandatangani surat pernyataan tersebut. Keluarga tetap menolak tanda tangan, lalu minta rujuk paksa. Keponakan saya akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan ke RS Gatoel sekitar jam 10 malam. Jenazah langsung dimakamkan tanpa protokol COVID-19. Jenazah disucikan di rumah oleh keluarga,” tandasnya.


Detik