Penampilan Umar bin Khattab

59

IslamiUmar bin Khattab radhiyallahu anhu khalifah Rasulullah, penakhluk dua imperium besar di masanya, Romawi dan Persia, memakai pakaian yang bertambal.

Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmizi, Imam Malik meriwayatkan dalam Al Muwaththa, bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku melihat Umar bin Khattab pada masa khilafahnya memakai jubah yang bertambal di dua pundaknya”.

_

Ibnu Zanjuwaih (wafat 247 hijriah) meriwayatkan dalam bukunya AI Amwal, ia berkata, “Umar bin Khattab memiliki seekor unta. Budaknya memerah susu unta setiap hari untuknya. Suatu ketika, budak membawa susu unta ke hadapan Umar. Umar berfirasat lain dan dia bertanya kepada budaknya, “Susu unta dari mana ini?”

Baca Juga :  Nabi Muhammad SAW Serta Masa Terputusnya Wahyu

Budaknya menjawab, “Seekor unta milik negara (baitul maal) yang telah kehilangan anaknya, maka saya perah susunya agar tidak kering, dan ini harta Allah”.

Umar berkata, “Celakalah engkau! Engkau beri aku minuman dari neraka!”

Bagi seorang pemimpin yang adil seperti Umar, penampilan bukanlah ukuran. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Thariq bin Syihab bahwa saat Umar datang ke salah satu daerah kekuasaannya, negeri Syam. la disambut gubernur Syam Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu, para tokoh dan rakyat di pintu gerbang kota Damaskus. la turun dari tunggangannya menuntun sendiri untanya serta mengepit kedua sepatu di ketiaknya untuk menyeberangi sungai kecil. Pemandangan ini disaksikan oleh khalayak ramai.

Baca Juga :  Anda Pernah Merasakan Tanda Ini, Alhamdulillah Artinya Allah Sayang Kepada Anda.

Maka Abu Ubaidah berkata, “Wahai, Amirul mukminin! Engkau disambut oleh para tokoh dan pembesar Syam dan melakukan hal ini?”

Umar marah seraya membentak, “Wahai Abu Ubaidah, sesungguhnya engkau dahulu adalah bangsa yang hina, rendah dan miskin, kemudian Allah muliakan kalian dengan islam. Jika kalian mencari ketinggian martabat dengan selain islam niscaya Allah akan rendahkan derajat kalian” Tarikh Dimasyq.


Republika