4 Tips Agar Rekening Bank Tak Dibobol Maling

  • Bagikan
4cea7886 3342121897

CR — Kemajuan teknologi memberikan kemudahan bagi masyarakat, termasuk dalam melakukan transaksi perbankan. Dengan teknologi, nasabah tak perlu keluar rumah untuk transfer uang, pembayaran tagihan kartu kredit, pembelian pulsa, pembayaran rekening listrik, cek saldo, mutasi rekening, dan sebagainya.

Maklum, semua itu bisa dilakukan melalui teknologi mobile banking (m-banking).

Namun, bagi sejumlah oknum kehadiran teknologi perbankan justru menjadi celah untuk menarik keuntungan pribadi. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama PT Bank Central Asia (Tbk) atau BCA Jahja Setiaatmadja bahwa ada modus pembobolan rekening bank melalui nomor telepon yang sudah lama tak terpakai atau mati.

Modusnya, pelaku menggunakan nomor telepon tersebut untuk melakukan transaksi lewat m-banking.

Jahja menyatakan pembobolan rekening bank bisa dilakukan apabila pemilik nomor rekening tak mengatur password secara rumit, seperti, hanya dengan tanggal lahir atau urutan angka 123. Menurutnya, modus ini beberapa kali dialami oleh nasabah BCA.

“Banyak yang tidak sadar mengganti nomor telepon, nomor telepon lama diabaikan. Itu kejadiannya kalau dia gunakan password lalu ada yang menggunakan lagi nomor itu dan ternyata password aplikasi mobile banking mudah, itu akan kejebol,” ungkap Jahja dalam diskusi online Sistem Pembayaran Digital oleh CNBC Indonesia.

Oleh karena itu, sebagai nasabah kita harus mampu mengimbangi kecanggihan teknologi dengan kewaspadaan serta kehati-hatian. Berikut sejumlah tips yang bisa dipertimbangkan agar rekening kita anti bobol.

1. Rutin Memperbaharui Data

Perencana Keuangan dari Zelts Consulting Ahmad Gozali menyarankan nasabah untuk memperbaharui data secara berkala terutama jika terjadi perubahan data. Meliputi, data alamat rumah, kantor, email, nomor telepon, dan sebagainya.

Meski terkesan sepele, namun pembaharuan data sangat penting. Tujuannya, agar pihak bank mudah mendeteksi jika ditemukan transaksi menggunakan data lama oleh oknum tidak bertanggung jawab. Pembaharuan data bisa dilakukan melalui aplikasi maupun datang langsung ke kantor cabang bank terdekat.

“Khusus untuk modus terbaru dengan memanfaatkan nomor handphone lama yang tidak terpakai. Jangan lupa untuk melakukan pengkinian data nasabah ke bank, atau melakukan update nomor di aplikasi yang terhubung dan menggunakan OTP (One Time Password) via sms,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).

2. Lindungi Data Pribadi

Gozali mengatakan nasabah harus melindungi data-data pribadi dengan cara tidak memberitahukan data tersebut kepada sembarang orang. Apalagi, jika data-data tersebut berkaitan dengan validasi transaksi perbankan, misalnya tanggal lahir, nama ibu kandung, dan alamat sesuai KTP.

Ia juga mengimbau nasabah bijak menggunakan media sosial untuk berbagi informasi, lantaran tidak ada batasan penerima jika sebuah informasi sudah kadung diunggah melalui internet.

“Karena kadang secara tidak sadar kita share nama ibu kandung, foto kartu ATM, terutama di bagian belakang ada kode keamanan, atau informasi pribadi lainnya yang mungkin dimanfaatkan sebagai celah penipuan,” imbuhnya.

3. Berkala Ubah PIN

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad menambahkan tak kalah pentingnya agar rekening tidak bobol adalah mengganti nomor PIN secara berkala. Hindari pemakaian PIN dengan kombinasi nomor tanggal lahir, sebaiknya menggunakan PIN dengan tingkat kerumitan tinggi.

Baca Juga :  Hwang In-yeop Kaget Followers Tembus 7 Juta

“Secara berkala mengubah PIN dan punya catatan dengan (PIN) agar tidak lupa tadi catatannya jangan di handphone,” ujarnya.

Untuk informasi, PIN dengan kerumitan tinggi adalah kombinasi huruf kapital, huruf kecil, angka, dan karakter. Selain itu, hindari kombinasi PIN untuk transaksi perbankan yang mudah ditebak seperti urutan angka 1234.

Gozali menambahkan jika nasabah berganti smartphone, sebaiknya menghapus aplikasi m-banking pada perangkat lama. Termasuk, menghapus riwayat SMS dan email yang mencantumkan kode OTP maupun validasi transaksi lainnya.

“Begitu juga ketika smartphone hilang, langsung lakukan tindakan pencegahan dengan blokir rekening atau ganti password,” katanya.

4. Tidak Menaruh Dana dalam Satu Rekening

Tejasari juga menyarankan agar nasabah tidak menempatkan uangnya dalam satu rekening. Terlebih jika nasabah selalu membawa kartu ATM rekening tersebut di dalam dompet, maupun menginstal m-banking dari smartphone.

Sebaiknya, kata dia, nasabah memiliki sejumlah rekening di bank dengan tujuan penggunaan dana berbeda. Misalnya, satu rekening uang penghasilan lalu rekening lain untuk dana darurat.

Tujuannya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka nasabah masih memiliki cadangan dana.

“Juga disarankan tidak menaruh banyak uang di rekening tabungan, kalau banyak bisa memasukkan ke deposito atau rekening investasi,” ucapnya.

Celah Membobol Rekening Melalui Nomor Ponsel Mati

Nomor ponsel mati disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya pengguna mengganti ke nomor baru sehingga sengaja tak mengisi pulsa hingga masa tenggang kartu SIM habis. Atau memang lupa mengisi pulsa sehingga kartu SIM hangus, setelah itu nomor yang terekam dalam sim card dibuang.

Pengamat keamanan siber dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya mengatakan seseorang seringkali lupa bahwa nomor tersebut terkoneksi dengan akun perbankan atau akun e-commerce meski sudah mati.

Hal ini membuat pelaku kejahatan bisa mengakses kode OTP untuk login ke akun perbankan. Kode OTP itu masuk ke SMS nomor ponsel lama tersebut.

Alfons mengatakan operator memang akan menghapus data-data seperti KTP dan KK yang terhubung ke nomor ponsel lama apabila nomor itu mati.

Oleh karena itu, Alfons menyarankan agar pengguna melapor ke perbankan atau layanan digital lain apabila sudah tak menggunakan nomor ponsel yang lama atau mengalihkan layanan digital ke nomor ponsel yang baru.

“Harusnya setiap kali ganti nomor, maka pemilik akun bank, kartu kredit atau layanan digital harus mengganti nomor ponselnya dan menginformasikan ke bank atau mengganti nomornya di informasi akun digital,” kata Alfons dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).

Akan tetapi, Alfons menjelaskan operator tak menghapus koneksi nomor telepon lama ke berbagai layanan digital karena itu bukan kewajiban mereka.

Apabila tak melapor, maka pelaku yang telah menggunakan nomor ponsel lama korban bisa mengakses kode OTP yang masuk ke SMS. Dengan kode itu, pelaku bisa masuk ke dalam aplikasi.

“Kalau tidak diganti, maka SMS OTP akan terus dikirimkan ke nomor lama. Bank dan aplikasi akun digital kan tidak tahu kalau pemilik akun sudah ganti nomor. Harus pemilik akun yang kasih tahu,” kata Alfons.

Baca Juga :  Resmi PSBB Transisi Jakarta Diperpanjang hingga 17 Januari 2021

Siapa yang beritahu pelaku bahwa nomor ponsel digunakan untuk aktivitas perbankan?

Kemudian muncul pertanyaan, dari mana pelaku bisa mengetahui nomor ponsel itu terhubung dengan mobile banking. Pengamat keamanan siber dari CISSRec, Pratama Persadha menduga ada orang dalam perbankan yang membocorkan nomor ponsel nasabah meski nomor itu belum diaktifkan untuk layanan mobile banking.

“Siapa yang suplai data ini, pastinya orang dalam perbankan. Selalu ada data nomor seluler, meskipun nomor tersebut belum tentu diaktifkan untuk kegiatan perbankan online dan mobile. Namun data awalnya pasti dari perbankan,” kata Pratama.

Pratama mengatakan para pelaku bisa dengan acak memeriksa nomor yang sudah tidak aktif, namun digunakan untuk aktivitas perbankan. Lalu mereka bisa mencari nomor tersebut atau membuatnya dari nomor pascabayar.

“Setelah dapat, mereka bisa mencoba satu persatu dengan menebak password maupun PIN,” kata Pratama.

Oleh karena itu Pratama mengimbau agar pengguna memastikan nomor tersebut tak tersambung dengan akun perbankan, media sosial dan dompet digital.

“Karena itu, sebelum membuang nomor, pastikan untuk mengganti nomor yang aktif pada mobile banking maupun internet banking. Selain itu, pastikan akun-akun medsos dan platform marketplace sudah tidak menggunakan nomor yang lama, karena berpotensi dijebol pihak lain bila tidak diganti,” tutur Pratama

Praktek daur ulang nomor mati oleh operator

Saran dari Pratama dan Alfons tersebut berkaitan dengan praktik operator yang kerap menjual kembali nomor-nomor ponsel yang sudah tidak aktif kepada pengguna lain dengan menggunakan kartu SIM.

Praktik daur ulang (recycle) nomor ponsel ini adalah hal yang lumrah dilakukan operator.

Group Head Corporate Communication XL Tri Wahyuningsih mengatakan daur ulang nomor mati itu sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia nomor 14 Tahun 2018 Tentang Rencana Dasar Teknis (Fundamental Technical Plan) Telekomunikasi Nasional.

Ayu mengatakan nomor yang telah mati itu dihidupkan kembali dan dijual kembali di Kartu SIM yang baru.

“Nomor yang sudah tidak dipakai lagi oleh pelanggan oleh operator akan disimpan selama 60 hari. Setelah itu, operator bisa mendaur ulang atau menjual dan mengaktifkan lagi nomor tersebut kepada konsumen lain,” kata Ayu.

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan Baasir mengatakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan pihak perbankan perlu duduk bersama untuk melakukan pendalaman terhadap modus pembobolan dengan kartu SIM ini.

Menurut Marwan, Kemenkominfo dan perbankan perlu sosialisasi kepada masyarakat untuk melapor ke perbankan apabila telah mengganti nomor ponsel untuk mencegah pembobolan rekening lewat nomor ponsel lama.

Marwan juga menjelaskan dibutuhkan berbagai sosialisasi terkait langkah-langkah seperti yang telah dijelaskan oleh Alfons dan Pratama. Sosialisasi ini akan menjadi pedoman terhadap apa yang harus dilakukan oleh konsumen setelah mengganti nomor yang baru untuk menghindari pembobolan.

“Kalau memang dibutuhkan, sosialisasi ke nasabah agar nasabah juga melaporkan, kita harus lakukan sosialisasi. Tapi intinya ATSI mendukung pengguna tetap mendapatkan layanan aman dan nyaman,” tutup Marwan.


[CNNIndonesia]

  • Bagikan
Positive SSL