Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia

  • Bagikan
4f0fb155 logo muhammadiyah

Nasional — Dubes Indonesia untuk Lebanon Hajriyanto Y Thohari mengatakan hubungan Muhammadiyah dengan kemerdekaan jelang tahun 40-an menunjukkan dinamika tinggi sebagai sebuah gerakan Islam.

“Perkembangan nasional sangat cepat terutama setelah Muhammadiyah masuk dan diterima di Sumbar, dari Minangkabau, Muhammadiyah berkembang pesat melesat di seluruh persada tanah air,”ujar dia dalam kajian rutin PP Muhammadiyah, Jumat (14/8.)

Muhammadiyah menjadi sangat diperhitungkan di tahun 40-an ketika Jepang berhasil kalahkan sekutu dalam front dan medan peperangan menguasai kawasan nusantara.

Ada organisasi yang nyaring di atas tapi tidak nyaring di bawah, Muhammadiyah menjadi gerakan yang nyaring dari atas hingga ke akar. Jepang kemudian segera mengetahui hal itu.

Baca Juga :  Suntik Mati TV Analog Tinggal Tunggu Jokowi Teken UU Ciptaker

Sehingga terbentuklah empat serangkai sebagai jembatan penghubung antara penguasa Jepang yang di nusantara dengan rakyat Indonesia. Diwakili oleh KH Mas Mansyur telah nampak betapa Muhammadiyah salah satu representasi kekuatan real bangsa Indonesia. Karena elemen Islam terwakili oleh beliau.

Setelah KH Mas Mansyur terpilih kepemimpinan Muhammadiyah beralih kepada Ki Bagus Hadikusumo. Kemudian Ki Bagus bersama Soekarno diminta datang ke Jepang untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  Akun Medsos 'Palsu' Esemka Dilaporkan ke Instagram

Ki Bagus kemudian mengusulkan satu orang lagi yakni M. Hatta. Ini diceritakan Hatta dalam Memoirnya. Kemudian peranan tokoh Muhammadiyah juga ada dalam PPUPKI dan BPUPKI, termasuk Ki Bagus di dalamnya dan tokoh Aisyiyah pun masuk di dalamnya.

“Tidak berlebihan jika saya menyebutnya sejarah Pancasila adalah sejarah Muhammadiyah,”ujar dia.

Tokoh -tokoh Muhammadiyah lain yang juga berpengaruh dalam kemerdekaan diantaranya Ir Djuanda, Radjiman Wedyodiningrat, Teuku Muhammad Hasan yang berkiprah di Aceh dalam memajukan pendidikan, dan Menag pertama Prof Rosyidi, putra Kotagede lulusan Prancis.

Editor AG

[Republika]

  • Bagikan