Pendidikan dan Ekonomi Rendah Picu Tingginya Tindak Asusila di Kepahiang

Kepahiang Tingginya Kasus asusila di Kabupaten Kepahiang memiliki kaitan erat dengan kesejahteraaan terutama ekonomi dan pendidikan. Diungkapkan Wakil Bupati Kabupten Kepahiang Netty Herawati.

Sebagai Ketua TP2P2A Kabupaten Kepahiang, ia melihat kasus asusila yang terjadi mayoritas melibatkan masyarakat dengan tingkat perekonomian dan pendidikan rendah.

Tidak hanya pelaku, rata-rata korban pun mayoritas berpendidikan paling tinggi SMP.

Baca Juga :  5 ASN dan 3 THL Setkab Kepahiang Dinyatakan Reaktif Rapid Test

“Terkadang ada juga yang berpendidikan dan ekonominya sama-sama masih rendah. Maka dari itu untuk menekan lonjakan kasus asusila ini, tak hanya pendidikan tapi ekonomi masyarakat juga harus diperhatikan,” Ungkap Netti.

Berdasarkan catatan, sepanjang tahun 2020 setidaknya ada 7 kasus tindak asusila. Beberapa diantaranya masih memiliki hubungan darah dan keluarga.

Baca Juga :  Jawaban Bupati Kepahiang Atas Pemandangan Umum Fraksi DPRD

“Belum lama ini ada yang adik ipar sendiri, anak tiri sendiri yang menjadi korban pelakunya. Hal ini mencerminkan jika pendidikan yang dimiliki pelaku masih terbilang sangat rendah. Entah dari segi sekolah maupun agamanya,” Sesal Netti.

Sebagai Upaya menekan kasus tindak asusila, T2P2A Kabupaten Kepahiang akan terus menggencarkan sosialisasi yang melibatkan Kejari dan Polres.

Baca Juga :  Bupati Kepahiang Hidayatullah Menjalani Rapid Test

“Yang harus diketahui, segencar dan sekuat apapun usaha yang kami lakukan semua akan percuma jika tingkat kepedulian masyarakat masih rendah. Khusus kasus ini tidak hanya pemerintah dan aparat penegak hukum saja, tapi orang tua, masyarakat dan pihak sekolah juga berperan penting didalamnya,” tutup Netti.

[RK]

Editor AG