Makna Hari Raya Iduladha, Qurban Memperkuat Rohani

  • Bagikan
3a818995 kurban 1

Islami — Iduladha (bahasa Arab: عيد الأضحى‎) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa qurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Id bersama-sama di tanah lapang atau di masjid, seperti ketika merayakan Idulfitri.

Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Iduladha jatuh pada tanggal 10 bulan Zulhijah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idulfitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.

Pusat perayaan Iduladha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Makkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik haji.

Iduladha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Iduladha disebut pula sebagai Idulkurban atau Lebaran Haji.

Lewat perintah itu, Allah hendak menguji ketaatan Ibrahim. Kisah ini terdapat dalam Alquran surat Ash-Shaffat ayat 103-107.

Baca Juga :  Doa Nabi Muhammad SAW setelah Sholat Jumat

Kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anak yang dicintainya ini menjadi dasar pelaksanaan kurban. Setelah kepada Nabi Ibrahim, Allah memerintahkan pelaksanaan kurban kepada Nabi Muhammad pada setiap Hari Raya Idul Adha.

Kurban bermakna pengorbanan pada sesuatu yang dicintai, yakni harta yang telah diperoleh. Dengan berkurban, artinya seorang Muslim memberikan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelihnya, dan memakan dan membagikan dagingnya kepada orang-orang di sekitar.

Menurut KH Said Aqil Siroj, qurban akan memperkuat rohani seorang Muslim. Tapi, ada syaratnya.

Agama Islam memerintahkan pemeluknya yang mampu, untuk berqurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya atau Hari Tasyrik.

“Dari sisi spiritual, setiap amal sholeh, amal baik dengan ikhlas, dengan tulus, akan memperkuat nuansa kerohanian. Itulah ajaran Islam yang sebenarnya,” kata kiai yang akrab disapa Kang Said itu, di Gedung PBNU, Jakarta.

Ketua Umum PBNU itu kemudian menggeser makna spiritual qurban ke makna sosial. Jadi, kata dia, Islam bukan hanya bicara ritual yang hanya bersifat individual seperti shalat, puasa, tapi membangun ritual sosial yaitu zakat, qurban, untuk membangun kebersamaan umat.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Berbakti Kepada Orang Tua? Ini Adabnya Menurut Allah dan Rasul-Nya

Beliau bercerita qurban itu ritual agama yang bersejarah.

“Dulu qurban itu manusia, tumbal ya. Ketika sistem kerajaan, raja itu berkuasa penuh. Rakyat itu tidak memiliki apa-apa.”

Bahkan, lanjutnya, penguasa raja itu bisa saja memerintahkan seorang anak untuk dilempar ke jurang, untuk dijadikan tumbal.

“Kemudian dalam sejarah dikatakan, Nabi Ibrahim pun diperintahkan Allah Swt menyembelih putranya, Ismail, karena waktu itu tradisinya qurban itu dengan manusia, tapi dibatalkan ketika Nabi Ismail siap disembelih. Dibatalkan, menjadi kambing,” jelasnya.

Makna qurban itu, Islam bermaksud mengajarkan pemerataan.

“Hari itu semua makan daging lah. Jangan ada yang kaya makan daging, yang miskin makan tempe,” ungkapnya.

Ia kemudian menceritakan temuannya tentang sejarah Idul Fitri dan Idul Adha. Menurutnya, di Madinah pada masa Jahiliyah ada perayaan atau festival yang di sana disebut mahrojan. Kemudian datang Islam, tidak mengubah acaranya, tapi isinya.

“Nabi Muhammad mengatakan, mahrojan-nya kita teruskan, tapi acaranya beda kontennya, subtansinya; Idul Fitri dan Idul Adha.”

[Jurnalgarut]

Editor AG

  • Bagikan
Positive SSL