Berapa Harga Vaksin Corona? Ini Penjelasannya

Jakarta — PT Bio Farma, perusahaan induk asuransi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), siap memproduksi 50 juta vaksin Covid-19 untuk tahap pertama. Kapasitas produksi perusahaan farmasi ini dianggap memadai untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Ia optimistis pengadaan vaksin Covid-19 untuk Indonesia bisa segera terwujud. Sementara harga jual akan ditetapkan oleh pemerintah.

Terkait harga jual vaksin corona ke masyarakat, Arya mengatakan, akan ditetapkan oleh pemerintah. Namun harga vaksin tersebut diperkirakan tidak jauh-jauh dari harga vaksin flu saat ini.

“Untuk harga vaksin, kita kan tahu harga vaksin flu berapa. Tidak jauh beda dengan harga vaksin itu juga. Saya kemarin sempat vaksin pneumonia, harganya jauh lebih mahal dari vaksin corona ini nantinya. Standar kok, segitu-segitu juga,” kata Arya.

Baca Juga :  Lima Negara Yang Mundur dari Piala Thomas Uber

Bio Farma merupakan perusahaan farmasi Indonesia yang punya kompetensi yang diakui dunia dalam memproduksi vaksin. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mempercayai Bio Farma untuk memproduksi sejumlah vaksin.

Seperti diketahui, Bio Farma, siap untuk melakukan uji klinis tahap 3 untuk vaksin Covid-19. Bio Farma akan menggunakan 2.400 vaksin Sinovac dari China yang tiba 19 Juli 2020, untuk tahap awal uji klinis tahap 3 yang akan mulai dilakukan pada Agustus. 

Dalam siaran pers yang disampaikan Bio Farma, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, uji klinis tahap 3 vaksin Covid-19, dijadwalkan akan berjalan selama enam bulan, sehingga ditargetkan akan selesai pada bulan Januari 2021 mendatang.

“Apabila uji klinis vaksin Covid-19 tahap 3 lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada Q1 2021 mendatang, dan kami sudah mempersiapkan fasilitas produksinya di Bio Farma, dengan kapasitas produksi maksimal di 250 juta dosis”, ujar Honesti.

Baca Juga :  Jokowi Kembali Soroti Kementerian Kesehatan

“Untuk mencukupi kebutuhan kita, Bio Farma sanggup untuk melakukan itu dan sangat cepat bisa dilakukan,” kata Arya saat wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (21/7/2020).

Honesti menambahkan, alasan pemilihan Sinovac sebagai mitra adalah platform vaksin/metode pembuatan vaksin yang digunakan oleh Sinovac, sama dengan kompetensi yang dimiliki oleh Bio Farma saat ini. Dengan metode inaktivasi tersebut, Bio Farma sudah memiliki pengalaman dalam pembuatan vaksin seperti vaksin Pertusis.

“Vaksin yang datang pada hari minggu kemarin, masih memerlukan beberapa tahapan lagi sebelum bisa dilakukan uji klinis pada Agustus 2020 mendatang. Tahap yang masih harus dilewati tersebut antara lain pengujian di dalam Laboratorium Bio Farma, dan beberapa perizinan lainnya,” kata Honesti.

Baca Juga :  Istri dan Ayah Jerinx Jadi Jaminan PEnangguhan Penahan

Pengembangan vaksin Covid-19 ini, merupakan satu dari lima skenario Bio Farma, dalam menangani penyebaran virus SARS COV2 penyebab Covid-19, antara lain, produksi Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Terapi Plasma Konvalesen, Mobile Laboratorium BSL 3, dan Pembuatan Viral Transport Media (VTM).

Arya menambahkan, Sinovac merupakan salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan Bio Farma. Ada berapa perusahaan farmasi lainnya yang bekerjasama dengan Bio Farma.

“Bio Farma sudah punya standar internasional sampai dipercaya beberapa negara. Bahkan WHO saja mintanya ke Bio Farma untuk membuat (vaksin corona). WHO saat ini juga sedang membuat vaksin-vaksin dan bekerja sama dengan Bio Farma,” kata Arya.

editor AG

[cnbc]