Tak Miliki Akta Kelahiran, Warga LubukLinggau Didenda

  • Bagikan
c646fcbd akta kelahiran

Lubuklinggau Sumsel — Tidak mengurus dokumen akta kelahiran anak hingga usia 1 tahun, warga Kota Lubuklinggau diwajibkan membayar denda. Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Lubuklinggau, HM Hidayat Zaini, Kamis (16/7/2020).

Didampingi Kabid Inovasi dan Pelayanan serta Data, Ahyar menjelaskan denda untuk orang yang tak membuat akta lahir ini dijelaskan Dayat sapaan akrab HM Hidayat Zaini, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Lubuklinggau Nomor 7 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Perda Nomor 7 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Sesuai Pasal 67 (1) setiap penduduk dikenakan sanksi administratif berupa denda apabila melampaui batas waktu pelaporan. Untuk kelahiran yang melampaui batas waktu 1 tahun lebih, dikenakan denda administratif sebesar Rp25.000.

Berdasarkan data, per Juli 2020 sudah 2.543 dokumen akta kelahiran yang mereka keluarkan. Dan 1.432 diantaranya terlambat, sehingga harus membayar denda ke kas daerah. Sementara 2019 lalu, yang mengurus akta kelahiran sebanyak 6.662 dokumen dan 4.049 dokumen membayar denda.

Berbagai alasan lanjut Dayat, membuat warga terlambat mengurus dokumen akta kelahiran. Terutama terkait kesadaran, ketika butuh baru diurus. Padahal membuat akta kelahiran cukup mudah.

“Hanya melampirkan buku nikah dan surat keterangan lahir, KK dan KTP-El orang tua. Apalagi sekarang bisa cetak sendiri tidak perlu ke kantor. Makanya selalu kita imbau, ayo urus akta kelahiran jangan sampai didenda,” imbaunya.

Kedepan pihaknya ada inovasi baru, akan melakukan kerja sama baik dengan rumah sakit, klinik dan bidan.

Baca Juga :  Enam Saksi Beratkan Terdakwa Koordinator KB – cakrawalarafflesia

Sementara Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Kabupaten Musi Rawas (Mura), Riko Ardiyanto mengatakan untuk kategori anak-anak usia 0-18 tahun di Mura sudah melampaui target nasional yakni 95,06 persen dari 85 persen.

“Sisanya 4,94 persen yang akan dikejar. Anak-anak usia 0-18 tahun di Mura jumlahnya 131.273 anak. Anak yang sudah terdata memiliki akta kelahiran sampai Juni 2020 berjumlah 124. 792 anak, sisanya 6.481 anak. Alhamdulillah ini berkat keaktifan kita menjemput bola melakukan pelayanan ke desa-desa dan sekolah baik PAUD, SD, SMP, dan SMA,” jelasnya.

Selain melayani akta kelahiran kategori anak, timnya juga melayani masyarakat yang sudah tua tapi belum akta kelahiran. Biasanya pembuatan akta ini digunakan masyarakat untuk memenuhi syarat umrah dan haji.

Dalam pembuatan akta kelahiran bagi masyarakat usai 19 tahun ke atas, syaratnya sama dengan pembuatan akta kelahiran pada umumnya, yakni mengisi formulir permohonan pembuatan akta kelahiran, fotokopi KK, KTP, dan surat keterangan kelahiran di Disdukcapil.

Dalam kondisi Covid-19, Disdukcapil Mura belum bisa ke lapangan membuka pelayanan pembuatan akta kelahiran. Namun masyarakat dapat mengirimkan file berkas persyaratan melalui WhatsApp (WA) Disdukcapil Mura. Atau bisa juga melalui website.

Masyarakat yang sudah mengirimkan berkas ke WA akan langsung diproses. Setelah selesai Tim Disdukcapil akan menghubungi yang bersangkutan untuk mengambil aktanya langsung ke kantor dan menyerahkan berkas persyaratan yang asli.

Bisa juga masyarakat kirim file di website, setelah akta selesai dibuat, file-nya akan dikirimkan ke email yang bersangkutan dan dapat diprint dengan HVS A4 80 gram.

Baca Juga :  Kecamatan Ini, Berhasil 'Loncat' ke Zona Oranye

Sementara Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Disdukcapil Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Devi mengungkapkan masyarakat Muratara masih ada yang belum paham kegunaan akta kelahiran.

Maka dari itu, timnya mengadakan kegiatan menjemput bola mengadakan pelayanan langsung ke tiap kecamatan di Muratara.

Sebanyak 5 orang pegawai Disdukcapil menginap di kantor camat selama dua malam untuk mendata dan mencetak akta kelahiran masyarakat. Kegiatan jemput bola tersebut dimulai sejak pertengahan Juni 2020. Timnya telah menyelesaikan 5 pelayanan ke lima kecamatan di Muratara yakni Kecamatan Nibung, Terawas Ulu, Rawas Ilir, Karang Dapo, dan Ulu Rawas.

“Kita sudah turun ke lima kecamatan, Minggu depan di kecamatan di Karang Jaya. Alhamdulillah tanggapan mereka bagus. Apalagi banyak masyarakat yang sudah tua-tua baru buat untuk syarat umrah dan haji. Sekarang sudah tercetak sekitar 700 akta kelahiran dari berbagai umur,” jelasnya

Lebih lanjut, Devi mengungkapkan kendala yang dihadapi di lapangan yakni susah sinyal ketika mendata. Seperti di Ulu Rawas, pengerjaan akta kelahiran dilakukan malam hari. Jika tidak selesai akan dilanjutkan di Disdukcapil.

Terkait denda terlambat membuat akta, Devi mengaku belum ada peraturan bupati mengenai hal itu. Maka dari itu, timnya turun ke lapangan melakukan sosialisasi ke masyarakat agar segera membuat akta kelahiran. Sebelum nanti ada peraturannya.

AG

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

  • Bagikan