Usulan DPRD Bengkulu Tahun Ajaran Baru Diundurkan Januari 2021

  • Bagikan
Dempo Exler S.Ip M.Ap

CR BENGKULU — Sejatinya Tahun Ajaran Baru Sekolah dilaksanakan pada bulan Juli 2020 Tahun ini, tapi Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Dempo Exler, S.Ip, M.Ap menyarankan dan mengusulkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu melalui Dikbud Provinsi Bengkulu. untuk dimundurkannya jadwal Tahun Ajaran Baru Sekolah.

Menurut Dempo, sebaiknya tahun ajaran baru sekolah dimundurkan pada Januari 2021 dari jadwal awal Juli 2020.

“Alasannya, karena mempertimbangkan masa pemulihan kemampuan finansial orang tua murid yang mata pencariannya terdampak pandemi Covid-19. Jadi 6 bulan ke depan masih merupakan masa yang sulit mencari pekerjaan atau memulai usaha baru,” kata Dempo, Senin (18/05/2020).

Dalam keadaan susah memenuhi kebutuhan sehari-hari, lanjut Dempo, biaya sekolah seperti pendaftaran hingga beli seragam akan menambah berat beban orang tua.

Baca Juga :  Nenek 74 Tahun Asal Bengkulu Jadi Korban Hipnotis

“Kita mengikuti skenario optimistis ajakan Presiden Jokowi agar kita berdamai dengan virus Covid-19 itu berhasil. Dalam artian pergerakan masyarakat mulai muncul dan kegiatan ekonomi pun mulai ada. Namun tidak secara otomatis masyarakat memiliki kemampuan pendanaan seperti menyekolahkan anak-anak mereka,” ujar Dempo.

Lebih lanjut Dempo memaparkan, jika mengikuti skenario pesimistis dengan pandemi yang belum berakhir sampai tahun ajaran baru bermula pada Juli 2020 maka beban orang tua akan bertambah besar.

Lantaran selain harus memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dengan kondisi yang serba terbatas, juga harus memikirkan mencari biaya sekolah anak serta membayar biaya pendaftarannya.

“Cukup manusiawi kah jika masyarakat masih dihadapkan pada masalah pandemi Covid-19 dan sekaligus bingung mendapatkan Sembako, ditambah harus memikirkan biaya sekolah bagi anak mereka,” papar Dempo.

“Bisa-bisa banyak orang tua tidak menyekolahkan anaknya. Memang SD serta SMP negeri tidak membayar SPP, tapi SPP itu hanya 25 persen saja dari total kebutuhan anak sekolah di setiap jenjang pendidikan,” sambung Dempo.

Dempo menambahkan, jika pandemi Covid-19 belum berakhir Juli 2020 dan kegiatan belajar tahun ajaran baru tetap dimulai secara daring. Maka masalah baru bisa muncul. Antara lain akibat ketersediaan fasilitas pendukung pembelajaran daring yang berbeda bagi setiap siswa di setiap daerah.

Baca Juga :  Foto Kecelakaan di Jalan Lintas Kepahiang - Bengkulu

“Pendidikan karakter juga sulit dilaksanakan ketika proses pembelajaran itu online. Karena kemampuan orang tua untuk membimbing itu berbeda-beda,” demikian Dempo.

Sumber

  • Bagikan