• Bagikan
virus corona

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu saat ini masih kesulitan untuk melakukan pemeriksaan pasien orang dalam pemantuan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) dalam jumlah banyak. Oleh sebab itu, Dinkes akan menggunakan metode pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dalam waktu dekat.

“Kita sudah berencana melakukan pemeriksaan pasien OPD dan PDP menggunakan metode PCR guna mengantipasi meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Provinsi Bengkulu ke depan,” kata Kepala Dinkes Bengkulu, Herwan Antoni SKM MKes, kemarin (2/5).

Ia mengatakan, jika pemeriksaan dilakukan menggunakan PCR, selain jumlah sampel uji lebih banyak juga hasil uji laboratorium swab bisa diketahui dengan cepat, karena pemeriksaanya dilakukan di laboratorium milik RSUD Yunus Bengkulu. Selama ini, pemeriksaan uji sample swab pasien OPD dan PDP dilakukan di laboratorium Balai Besar Labor Kesehatan (BBLK) Palembang, Sumsel, dan laboratorium Balibangkes Kemkes di Jakarta dan hasinya baru diketahui 3-5 hari ke depan.

“Hal ini menyebabkan pihak Dinkes Bengkulu dan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 kesulitan untuk memetakan wilayah penyebaran virus corona. Akibatnya, penyebaran virus mematikan ini semakin meluas di Bengkulu,” ujar Herwan.

Selain itu, banyak pasien OPD dan PDP Covid-19 di Bengkulu meninggal baru kemudian hasil uji sampel swab dari laboratorium BBLK Palembang keluar dan menyatakan pasien OPD dan PDP tersebut negatif virus corona.

“Jadi, program kita akan melakukan pemeriksaan OPD dan PDP Covid-19 menggunakan PCR tidak ada hambatan lagi dan sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Kita tergetkan pertengahan Mei sudah dapat dilaksanakan,” ungkapnya.

Dengan pemeriksaan menggunakan alat PCR tersebut, pasien OPD dan PDD dapat diketahui dengan cepat mereka positif atau negatif Covid-19.

Baca Juga :  Kota Bengkulu Belum Boleh Sekolah Tatap Muka

“Jika pasien OPD dan PDP negatif meninggal dunia, maka pemakamannya akan dilakukan seperti orang biasa meninggal dan tidak dilakukan pemakaman melalui protap pasien positif Covid-19, seperti yang dilalukan selama ini,” ujarnya.

Herwan mengaku, ada beberapa orang pasien OPD dan PDP meninggal dunia dan pemakamanya dilakukan sesuai produser pemakaman jenazah Covid-19, tapi setelah uji sampel swab keluar dari labor yang bersangkutan ternyata negatif Covid-19.

“Jika pemeriksaan pasien OPD dan PDP menggunakan PCR, maka kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi dalam penanganan kasus virus korona di Bengkulu. Karena itu, pemeriksaan pasien OPD dan PDP virus corona menggunakan PCR mendesak dilaksanakan di Bengkulu,” tutupnya.

Masyarakat Pilih Karantina di Rumah Meskipun Pemerintah Provinsi Bengkulu telah menyiapkan tempat khusus karantina mandiri bagi pelaku perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19, namun banyak yang memilih untuk melakukan karantina mandiri di rumah.

Bahkan gedung karantina di Asrama Balai Latihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Bengkulu yang memiliki kapasitas daya tampung mencapai ratusan orang hingga saat ini belum dimanfaatkan oleh pelaku perjalanan dengan status Orang Dalam Pengawasan (ODP) maupun Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, H Herwan Antoni SKM MKes mengatakan, belum adanya orang yang melakukan karantina di Asrama Balai Bapelkes Provinsi Bengkulu disebabkan pelaku perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 kebanyakan memilih karantina mandiri di rumah masing-masing.

Mereka beranggapan karantina mandiri di rumah lebih baik dan efektif. Padahal karantina di rumah memiliki potensi penularan yang cukup tinggi jika pelaku perjalanan tersebut berstatus OTG.

“Kalau mereka ODP karantina di rumah tidak masalah, tapi kalau OTG dan positif Covid-19 itu yang berbahaya,” kata Herwan, Sabtu (2/5). Ia mengaku, beruntung jika OTG tersebut di rumah hanya tinggal sendiri. Namun jika di rumah harus tinggal dengan orang tua, anak-anak, dan kerabat maka akan sangat berisiko bagi orang terdekat.

Baca Juga :  Provinsi Bengkulu Bersiap Menuju Protokol New Normal

Oleh karena itu, pemerintah menyediakan lokasi karantina mandiri yang jauh dengan orang terdekat. “Kalau memang sayang kepada mereka maka karantina mandiri di Asrama Bapelkes Provinsi ini adalah solusi yang paling baik,” tuturnya. Di asrama Bapelkes, tambah Kepala Dinas Kesehatan, Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, mempersiapkan 60 kamar.

Fasilitasnya berupa televisi, AC, kamar mandi dan halaman untuk berjemur dan berolah raga.Selain itu, Bapelkes juga akan disiapkan perawat dan dokter, guna memantau langsung kondisi ODP dan OTG. ”Kondisi Bapelkes ini akan dilengkapi lagi kebutuhan untuk karantina sesuai standar penanganan Covid-19,” ujar Herwan.

Selain itu, ia mengaku penyediaan lokasi karantina mandiri non-perawatan ini sudah menjadi kebutuhan mutlak setiap wilayah, mengingat ODP maupun OTG membutuhkan tempat karantina. ”Dengan tempat karantina ini permasalahan ODP dan pelaku perjalanan yang membutuhkan tempat karantina mandiri, makan dan penanganan medis akan teratasi,” tutupnya.

Seperti diketahui, jumlah pelaku perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 di Bengkulu saat ini telah mencapai 25.857 orang. Dengan rincian 1.797 orang di Kota Bengkulu, 6.829 orang di Rejang Lebong, 722 orang di Lebong, 3.590 orang di Bengkulu Utara, 3.388 orang di Bengkulu Selatan, 999 orang di Bengkulu Tengah, 1.620 orang di Kepahiang, 1.336 orang di Seluma, 1.727 orang di Kaur, dan 3.849 orang di Mukomuko. Saat ini mereka telah menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

  • Bagikan
Positive SSL